Makassar; Kota Kotak Kaca

Selasa, 29 Januari 2013





Wajo, 29 Januari 2013

Buat Makassar

Apa kabar? Selalu baik, kan? Kamu harus tahu, di dalam surat ini aku akan menyapamu “Daeng”. Tak apa, kan? Ah, kamu terlalu baik, Daeng; tak pernah menolak inginku. Aku mencintaimu. Sungguh. Semoga setiba surat ini ke matamu, kamu tak sedang membaca koran, atau menonton televisi. Jangan! Jangan terbiasa menyakiti dirimu sendiri. Ya, Daeng, betul sekali. Sakit. Memang. Baik jika kamu tak juga mengerti, akan kuceritakan. Dengarlah, tapi mohon, jangan menagis atau bersedih. Sedikitpun. jangan.
Aku pernah menemukanmu di televisi—menjadi kota kotak kaca. Aku sedih. Kamu diadili tanpa mampu membela sedikitpun. Para pembawa acara di telivisi membincang kamu, tanpa memberimu kesempatan, sekadar berkata “ya, itu betul” atau “maaf, saya tidak seperti itu”. Mereka tak peduli, Daeng. Aku peduli.
Yang menyedihkan ketika kamu dituduh menyembunyikan sejumlah keburukan, yang aku tahu kamu sendiri pun tak pernah tahu. Aih, kamu jangan murung. Bukankah kamu berjanji takkan bersedih mendengar ceritaku. Sudahlah, Daeng. Izinkan kuselesaikan. Baru beri aku kesedihanmu, dan barangkali dapat kita lebur di debur ombak Losari. Barangkali. Suratku masih di awal. Aku berjanji membahagiakanmu di akhirnya. Sekali lagi aku mencintaimu. Dengarlah kembali. O iya, aku punya sebuah puisi. Hehehe, aku tahu kok, kamu ingin dibacakan. Sabar, Daeng!

Hem..., kamu sudah mendengarkannya, kan? Apa? Tidak? Hehehe, memang tidak akan bisa. Bukankah puisi itu adalah kamu sendiri. Lagipula puisi tak butuh didengarkan. Cukup dirasakan adanya. Aduh..., kok lari ke puisi yah? Aku sengaja, Daeng, aku tak ingin menambah sedihmu. Walau pada akhirnya akan kuceritakan juga apa yang akan melukaimu. Mungkin. Tapi, semoga tidak. Singkat saja, kamu diadili di televisi. Katanya di kamu menyimpan para pelajar perusuh. Katanya kami menampung banyak preman. Katanya orang-orang di tubuhmu anarkis. Keras. Kasar. Ah, sudahlah! Saya mohon, jangan menangis Makassarku sayang. Biarlah mereka memjadikanmu Kota Kotak Kaca—menilai dari layar yang tak lebih lebar dari daun jendela yang jika disingkap bahkan tak dapat melihat segala. Sekali lagi aku (tetap) mencintai. Dan sekali lagi jangan menangis. Kamu jangan sampai kebanjiran lagi. Kamu kebanjiran dan hanya mahasiswa yang konon perusuh itu, menampung sedihmu untuk disudahi. Pula orang-orang yang konon anarkiss itu yang bergelut di kemelut lukamu. Menyedihkan. Sedangkan “kotak kaca” yang rajin membicarakanmu, diam. Mereka tak lantas mengabarkan tentang kamu yang butuh bantuan. Paling tidak dapat membuat hobi prihatin presiden kita muncul lagi. Kadang kamu dibincangkan. Hanya sebentar. Kotak kaca itu lebih rajin membicarakan calon presiden. Ya, calon presiden yang bisa saja membuat kelak semua rakyat beralih aliran musik—dangduters. Atau calon presiden yang rajin main twitter—memimpin negara barangkali bisa dengan sepasang jempol—menebar sumpah—sampah. Para pengabar di “kotak kaca” itu akan melupakanmu jika tak ada keributan di tubuhmu. Tapi sabar, Daeng. Aku tetap mencintaimu. Sekali lagi.
Kamu semakin sedih. Jangan berbohong. Baik aku akan membuatmu bahagia sekarang. Menepati janjiku. Lupakan semua luka itu, move on, move, move on, anggap saja kisahku tadi sebagai mantan pacarmu. Hahaha. Tuh kan, kamu tertawa. Aku mencintaimu. Hem, sebenarnya aku ingin berterima kasih, sekaligus membuatmu senang mendengarnya. Aku sudah move on dari mantanku yang dulu. Yang mana? Ah, kamu mengolokku, Daeng. Bukankah hanya satu perempuan yang pernah ingin menjadi pacarku. Itupun dulu. Iya, aku ingin berterima kasih, kamu menyiapkan Pantai Losari sebagai tempat kami pacaran. Dulu, ya, dulu. Naf? Hahaha, kamu ingat juga yah nama mantanku itu. Iya, Naf. Aku masih mencintainya, dia masih mencintaiku. Tapi, kami tak cocok jika menyatukan cinta. Akhirnya, aku semakin jarang ke Losari memotret senja dengannya. Kami putus. Tapi itu bukan kabar buruk. Bukankah aku ingin membahagiakanmu? Seperti janjiku.
Yang akan membahagiakanmu adalah aku sudah punya (calon) pacar baru. Aku memanggilnya “Ca”, silakan tebak nama aslinya, Daeng. Kamu kan tahu, aku suka sapaan yang pendek—romantis kedengarannya. Ca, satu fakultas denganku. Pernah aku menawari membacakannya puisi. Dia tidak menolak, “kelak bacakan saya puisi di Menara Eiffel, saya bacakan perasaan kita” katanya. Duh dia romantis, bukan. Kamu sudah bisa menebak dia jurusan apa? Hahaha, jangan ribut. Kamu tepat. Tapi jangan takut, aku tetap mencintaimu. Sebelum membawa Ca ke Paris, aku ingin membawanya ke Rotterdam. Kok kaget? Waduh, maaf, maksudku, aku ingin membawanya ke Fort Rotterdam. Ya, benteng yang tubuhnya menubuhimu, sepelemparan tatap dari Losari. Seperti kamu pernah cerita kepadaku, konon Fort Rotterdam itu adalah benteng yang berbentuk penyu raksasa—menghadap ke laut Losari. Itu yang ingin membuatku membawa Ca ke sini. Aku ingin cinta kami seperti penyu. Hush..., kamu jangan tertawa dulu, ini bukan lelucon. Iya, betul aku ingin cinta kami seperti penyu. Penyu dapat hidup di dua alam; air dan darat. Pun cinta kami kelak—hidup di dua alam—suka dan duka. Tunggu aku, Daeng, aku akan membawa Ca ke sana. Ketika aku benar-benar yakin dijadikan dan menjadikannya pacar.

Sudah dulu yah, jangan sedih, perihal “Kota Kotak Kaca”, jangan risau.  O iya, kalau ketemu Ca, sampaikan, aku mencintainya.

Salam....

MERENTANG PELUKAN KEPADA MATAMU YANG TUBUH

Senin, 03 Desember 2012


Menulis puisi sama dengan memeluk.
Ada yang lebih luas dari sekadar kata-kata dalam kalimat tersebut. Kalimat yang sering diungkapkan Aan Mansyur dalam berbagai kesempatan tersebut tanpa terduga memantik gagasan lahirnya buku himpunan puisi ini.
Hanya dalam waktu tujuh hari sejak proyek Merentang Pelukan diumumkan lewat jejaring sosial, lebih dari 600 judul puisi terhimpun. Tanpa memperdulikan gender, usia ataupun latar belakang, dari puluhan penulis–yang wajib mengirim minimal 20 judul puisi–terpilih 13 nama yang kami himpun karyanya dalam buku ini. Mereka adalah:- Andi Gunawan, Depok- Andi Wirambara, Malang- Catur Indrawan, Semarang- Dwi Krisdianto, Sidoarjo- Faisal Oddang,  Wajo- Fitrawan Umar, Makassar- Mey DM, Malang- Muhammad Dirgantara, Pinrang- Pringadi Abdi Surya, Sumbawa Besar- Pujanggi, Bandung- Rafael Yanuar, Cirebon- Rangga Rivelino, Bekasi- Toffan Ariefiadi, Tegal. (Mengantar Pelukan -- katabergerak)


Saya menulis  puisi karena merasa saya selalu jatuh cinta. Dan tidak ada yang bisa saya cintai melebihi kata-kata. Berawal dari  kecerewetan saya berkicau galau, yang kadang kacau balau, melalui akun twitter saya; @sajakimut saya menemukan sebuah akun penerbit buku puisi M Aan Mansyur (Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita, Sudahkan Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?). Agus Noor (Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan). Akun itu adalah @katabergerak yang kebetulan mengadakan proyek "Merentang Pelukan", saat beberapa judul puisi mengendapi folder-folder notebook saya. Saya mengirimkan 26 judul puisi, dari batas minimal sejumlah 20 judul. Hasil kurasi memutuskan memilih 5-6 judul puisi dari ketigabelas penulis yang terpilih, sedang puisi saya yang berhasil memeluk selera kurator, ada enam judul. Berikut saya kutipkan beberapa kutipan dalam puisi-puisi saya yang terpilih.

~akulah peziarah
--kamu yang gigil memanggil
sebab aku selalu tamu
bagimu yang termakam di hatiku.


~aku ingin mencintaimu dengan bodoh
; tak tahu lagi cara jatuh cinta, setelahnya


~sementara aku terjaga
mengaduk kopi di tangan perempuanku
dengan aroma kopi
seperti aroma kecupanmu.


dan akhirnya pelukan terentang, bersiapkah matamu menjadi tubuh, buku hanya dijual online. 
Ada berbagai acara untuk memesan buku yang diterbitkan oleh Katabergerak:
Jika Anda memiliki akun twitter silahkan follow akun penerbit @katabergerak lalu pesan melalui mention. Selanjutnya @katabergerak akan memberitahukan dengan detail melalui jalur DM (Direct Message).Pemesanan juga bisa melalui email, silahkan pesan dengan mengirimkan email ke alamat email katabergerak@gmail.comBuku juga bisa dipesan melalui sms ke nomor 088801136004

Selamat Ulang Tahun, Za

Sabtu, 17 November 2012



“Selamat Ulang Tahun, Za”

            Sebelum usiamu usai, bacalah!

            Ada beberapa potong kata yang tidur dalam bibirku, Za. Banyak. Sangat banyak. Lewat ini mereka terjaga, lantas mencari matamu sebagai tempat tidur, selanjutnya. Aku menghabiskan seribu enam ratus tiga puluh empat detik untuk menuliskan puisi ini. Mungkin bukan puisi. Tapi ini puisi. Bagiku, bagimu juga, barangkali. 

            Aku berdoa kepada kehilangan, agar ia buta saat mencarimu dalam kepalaku. Aku berdoa kepada kehilangan, agar ia bisu saat memanggilku dalam dadamu. Juga..., aku berdoa kepada kehilangan, kelak ia datang, hanya umurmu yang ditanggalkan. Sebab beginilah barangkali, cara kau mencintai apa yang sangat mencintaimu, yang sebenarnya kau benci; kehilangan. Ini detik ke-empat ratus dua puluh empat, tapi belum sempat kutempatkan rapat kalimat  di lipat namamu. Kalimat; selamat ulang tahun, Za.

            Kau tentu bertanya, mengapa sekarang kau kunamai “Za” padahal dulu “Zha”. Aku bingung juga memilih yang mana. Sungguh. Aku memanggilmu “Zha”, dulu, sebab semacam ada desah yang kusampaikan saat menyapamu. Romantis, bukan? Tapi, kau belum tahu, aku suka nama panggilan yang pendek. Kemungkinan paling pendek sebuah nama, adalah sapaan paling romantis bagiku. Kau mengerti, kan, Zha? Eh, Za? Aku suka namamu pendek, tapi tidak umurmu. Selamat ulang tahun, Za.

            Sebelum umurmu lamur, bacalah!

            Kemungkinan ada beberapa susun kata, yang kau kutip dalam katup catatanmu. Catatan yang katamu, kau tulis dengan pensil. Barangkali isi catatanmu seperti ini;

            Malang, 17 November 2012, dengan segelas kopi dan ingatan tentang kampung yang konon berisi halaman. Di halaman pertama kutulis “selamat ulang tahun, Saya.”

            Aku masih pandai berandai. Peka menduga isi kepala yang bukan kepalaku. Walau lebih sering salah, seperti katamu. Sekali lagi dan kelak sekali lagi dan berkali-kali; selamat ulang tahun, Za. Semoga kita bisa bertemu di tempat dan waktu yang sepakat untuk sama. Di umur yang belum lamur untuk menukar kado yang kita janjikan; sebuah buku.

            Aku ingin sebentar malam, sebelum usiamu genap delapan belas tahun satu hari, di ujung ponselmu kau bersedia bersetia mendengar deringnya dan diam, saat telpon terhubung. Aku akan berucap; Selamat ulang tahun, Za. Sekali lagi, dan akan berkali-kali.


Wajo, 17 November 2012
*gambar, kucari dan kucuri dari akun facebookmu, Za. 

(Cerpen) Bung Parani

Jumat, 16 November 2012



“ Bung Parani”
(Harian Fajar 1 Juli 2012)

            Sumur itu masih menyimpan sejulur misteri yang terus membelitku. Sejak berusia lima tahun aku ingin sekali ke sana, sekadar bermain saja. Tapi Nenek selalu melarang, femmali, katanya. Higga kini aku telah disunat—akil baliq, tapi larangan itu tidak pernah tergerus sedikitpun. Bahkan pikiranku yang mulai dimatangkan usia tidak berpengaruh, tetap saja, femmali.
            Anehnya Nenek belum memberi alasan yang jelas atas larangannya itu. Sumur yang berjarak 100 meter dari rumah panggungku memang jarang terjamah manusia, hanya ternak-ternak penduduk yang sesekali menyambanginya. Mungkin karena angker. Sebab lazimya tempat tak terjamah akan dikeramatkan. Itu hanya penafsiranku saja, barangkali Nenek memiliki alasan yang berbeda.
            “Aku ingin ke sana, Nek, ke sumur di samping kebun Puang Beddu.”
            “Apa? Mau apa ke sana?”
            Bola mata Nenek sontak membulat-besar. Air mukanya menegaskan penolakan. Dan aku tidak perlu lagi menjawab. Jawabanku tidak akan berpengaruh. Aku meninggalkannya dengan kalimat penolakan yang masih tertahan di tenggorokan.
***
            Di kampungku, Tosora, sekitar 15 kilometer dari pusat Kabupaten Wajo, masyarakatnya masih percaya akan hal-hal mistik. Mitos-mitos turun-temurun masih terpelihara dengan baik. Begitu pula dengan Nenek, sekali femmali pantang untuk dilanggar. Kalau bukan nyawa yang melayang, orang yang melanggar akan sakit menahun. Nenek sangat percaya akan hal itu.
            Keinginanku untuk pergi ke sumur itu semakin menjadi-jadi. Saban hari aku terus merajuk pada Nenek. Meski jawabannya tetap sama, aku tidak mau menyerah. Pada suatu waktu yang tidak kuingat jelas, kapan tepatnya, Nenek memanggilku duduk di sebelahnya.
            “Kamu mau dengar kisah tentang sumur yang ingin sekali kamu sambangi itu?”
            Aku tercenung mendengarnya. Ada semacam rasa ingin tahu meloncat-loncat dalam diriku.
            “Mau!”
            Tegasku tanpa pikir panjang.
            Nenek memulai ceritanya dengan terbata-bata. Ada semacam duka menggelayut di bibirnya.  Konon diriwayatkannya, sumur itu dinamai Bung Parani, bung yang dalam bahasa Bugis berarti sumur, sedangkan parani barangkali dari kata warani yang berarti berani. Aku menerka-nerka saat Nenek mulai menyebutkan nama sumur idamanku, dan ternyata terkaanku benar, aku tahu itu setelah cerita Nenek mengalun semakin jauh.
            Akhirnya aku tahu alasan Nenek selama ini melarangku ke sumur itu. kakek buyutku adalah prajurit kerajaan Wajo, waktu itu Nenek belumlah lahir, kisah yang ia terakan kepadaku adalah hasil cerita turun-temurun. Keluarga kami memang sangat pintar merawat kenangan. Di sumur itu Kakek dimandikan sebelum terjun di medan perang, konon air dari bung parani adalah air paling suci di seluruh tanah Wajo, airnya dituahkan, mustajab untuk penyembuhan. Selain itu prajurit kerajaan yang dimandikan dengan airnya akan mendapat semacam kekuatan mistis. Nenek sangat berapai-api menceritakannya waktu itu.
            Selain mitos tentang airnya yang betuah, bung parani konon memiliki penunggu, belut yang sebesar lengan orang dewasa, warnanya abu-abu menghampiri putih, disebabkan umurnya yang ratusan tahun. Menurut cerita Nenek, belut itu selalu dijadikan tanda, jika dalam ritual memandikan prajurit belut itu tidak nampak berenang di dasar sumur, maka kerajaan akan kalah dalam berperang. Begitu pula sebaliknya.
            “Kakek buyutmu….”
            “Kakek kenapa, Nek?”
            Kejarku pada kalimatnya yang mulai tersendat duka, tampaknya.
            Dikisahkan oleh Nenek, kakeknya gugur dalam pertempuran melawan kerajaan Bone, saat dimandikan belut itu tidak tampak dan hasilnya kerajaan Wajo takluk.
***
            Terang saja Nenek melarangku ke bung parani, ternyata tempat itu membuat Nenek kehilangan segalanya; orang-orang yang disayangi. Kini tinggal aku satu-satunya harta yang ia miliki. Ibu dan bapakku meninggal saat aku baru saja dilahirkan, sekitar satu minggu umurku waktu itu.
            “Kamu harus tahu, alasan Nenek melarangmu ke sumur itu.”
            Aku kaget mendengarnya.
            “Bukankah Nenek telah menceritakannya, tentang Kakek yang gugur dalam peperangan?”
            “Bukan! Ada hal lain yang lebih penting daripada itu.”
            “Apa, Nek?”
            Aku penasaran. Sangat penasaran.
            Saat Nenek mulai mengisahkan hal yang ingin ia sampaikan kepadaku, keresahan begitu ketat berkelebat di kepalaku. Aku baru tahu; semalam sebelum aku terlahir Ibu bermimpi mandi di sumur tua itu, konon dalam mimpinya ia melampari belut yang berenang di permukaan sumur, karena merasa belut itu akan mengotori air sumur, keesokan harinya, aku lahir dengan selamat dan Ibu meninggal saat berjuang malahirkanku. Tapi perihal mimpi itu sempat diceritakan kepada Bapak. Bapak geram, ai mengambil cangkul, tersuruk-tersuruk berjalan ke arah sumur, ia akan menimbun sumur itu, sumur yang baginya telah menghilangkan nyawa Ibu. Belumlah selesai ditimbunnya, kepala Bapak  mendadak pusing. Penglihatannya kacau. Kata Nenek, Bapak meninggal karena ditegur oleh penunggu sumur atas kelancangannya.
            Cerita Nenek tentang sumur tua di samping kebun Puang Beddu, membuatku semakin penasaran. Aku sangat percaya ucapan guru mengajiku; ajal ditentukan oleh Allah, de’ nattelleng mata esso ritenggana bitarae. Aku sangat percaya, matahari takkan tenggelam sebelum senja, seperti juga ajal yang telah memiliki garisnya sendiri.
            Pagi-pagi sekali, aku mengambil jeriken, serta timba, aku lalu minta izin kepada Nenek  untuk mengambil air di sumur Puang Masse. Tentu aku berbohong. Aku menilisik jalan setapak dalam remang, menuju bung parani. Ingatan tentang Kakek, Ayah, serta Ibu, berkejaran. Ingatan tentang kematian yang tidak wajar. Tapi hal itu sedkitpun tidak menciutkan nyaliku.
            Tanpa gemetar  aku berdiri di bibir bung parani, mengulurkan timba, lalu menuangkan air ke dalam jeriken. Setelah jerikenku penuh, mataku tiba-tiba menangkap seekor belut (mungkin belut yang diceritakan Nenek) berenang mengitari pinggir sumur. Aku merasa sebuah kemenangan akan menghampiriku. Aku segera pulang. Jalanku seperti berlari rasanya.
            Di rumah panggung kami yang sederhana orang-orang menyemut.
            “Nenekmu meninggal setelah muntah darah.”
            Puang Masse menuntun lenganku menanjaki tangga. Aku berlari memeluk Nenek.
            “Nek, sumur itu ternyata tidak melukaiku, lebih-lebih merenggut nyawaku.”
            Bisikku padanya dengan penuh rasa kemenangan.(*)

Wajo(Tale), 28 Juni 2012
Nb; Bung Parani adalah situs sejarah yang dimiliki Kabupaten Wajo, terletak di Tosora, Kecamatan Majauleng, merupakan tempat memandikan prajurit sebelum berperang. Mitos-mitos seperti ‘belut’ memang selalu dibicarakan masyarakat

(Puisi) Teruntuk Sepasang Suami-Istri yang Paling Ayah dan Paling Ibu

Senin, 12 November 2012



TERUNTUK SEPASANG SUAMI-ISTRI YANG PALING AYAH DAN PALING IBU
                        : Oddang Ranreng dan Hj. Mandauleng A. Gani

kelak aku pulang dari tualang, akan kuceritakan kepada kalian bahwa, anakmu ayah, anakmu ibu, telah sanggup menampung airmatanya sendiri, walau kutahu kalian ingin muara semua lara. juga akan kuterakan, bahwa aku telah pernah menulis puisi untuk seorang gadis, yang selalu menganggu tidur anakmu. gadis itu penyuka warna biru, aku ingat ayah pernah bilang; biru itu lembut seperti ibumu. dia juga suka menari, tari seperti yang diajarkan ibu—leluso—tari penyambutan—karenanya kebahagiaan kian biak dengan baik.

anakmu telah belajar mencintai, aku pualam di pulau entah yang memahat diriku dari tangan gadis-gadis pengrajin. anakmu ayah, anakmu ibu, bocah tua yang gelayuti lengan-lengan tabahmu. aku percaya di sana kehidupan lebih hidup. seumpama matamu itu—tempat tahun-tahun menua menjadi tuhan-tuhan yang ramah kepada hambanya, aku.

selalu kaubutuhkan tabah ke tubuhmu itu saat menunggu kelanaku yang entah kemana. aku berjanji kepadamu ayah, kepadamu ibu, kupelukkan peluh ke tubuhmu dengan susu dari laban—susu surgawi. kita teguk bersama-sama gadis yang selalu kutuliskan puisi untuknya. kelak pelana membawa kelana ke sana, ke tempat tunggu paling madu; rumah kita.

Wajo, 18-Juli-2012
Faisal Oddang. Diberdayakan oleh Blogger.