“ Bung Parani”
(Harian Fajar 1 Juli 2012)
Sumur itu masih menyimpan sejulur
misteri yang terus membelitku. Sejak berusia lima tahun aku ingin sekali ke
sana, sekadar bermain saja. Tapi Nenek selalu melarang, femmali, katanya. Higga kini aku telah disunat—akil baliq, tapi
larangan itu tidak pernah tergerus sedikitpun. Bahkan pikiranku yang mulai
dimatangkan usia tidak berpengaruh, tetap saja, femmali.
Anehnya Nenek belum memberi alasan
yang jelas atas larangannya itu. Sumur yang berjarak 100 meter dari rumah
panggungku memang jarang terjamah manusia, hanya ternak-ternak penduduk yang
sesekali menyambanginya. Mungkin karena angker. Sebab lazimya tempat tak
terjamah akan dikeramatkan. Itu hanya penafsiranku saja, barangkali Nenek
memiliki alasan yang berbeda.
“Aku ingin ke sana, Nek, ke sumur di
samping kebun Puang Beddu.”
“Apa? Mau apa ke sana?”
Bola mata Nenek sontak membulat-besar.
Air mukanya menegaskan penolakan. Dan aku tidak perlu lagi menjawab. Jawabanku
tidak akan berpengaruh. Aku meninggalkannya dengan kalimat penolakan yang masih
tertahan di tenggorokan.
***
Di kampungku, Tosora, sekitar 15
kilometer dari pusat Kabupaten Wajo, masyarakatnya masih percaya akan hal-hal
mistik. Mitos-mitos turun-temurun masih terpelihara dengan baik. Begitu pula
dengan Nenek, sekali femmali pantang
untuk dilanggar. Kalau bukan nyawa yang melayang, orang yang melanggar akan
sakit menahun. Nenek sangat percaya akan hal itu.
Keinginanku untuk pergi ke sumur itu
semakin menjadi-jadi. Saban hari aku terus merajuk pada Nenek. Meski jawabannya
tetap sama, aku tidak mau menyerah. Pada suatu waktu yang tidak kuingat jelas,
kapan tepatnya, Nenek memanggilku duduk di sebelahnya.
“Kamu mau dengar kisah tentang sumur
yang ingin sekali kamu sambangi itu?”
Aku tercenung mendengarnya. Ada
semacam rasa ingin tahu meloncat-loncat dalam diriku.
“Mau!”
Tegasku tanpa pikir panjang.
Nenek memulai ceritanya dengan
terbata-bata. Ada semacam duka menggelayut di bibirnya. Konon diriwayatkannya, sumur itu dinamai Bung Parani, bung yang dalam bahasa
Bugis berarti sumur, sedangkan parani barangkali dari kata warani yang berarti
berani. Aku menerka-nerka saat Nenek mulai menyebutkan nama sumur idamanku, dan
ternyata terkaanku benar, aku tahu itu setelah cerita Nenek mengalun semakin
jauh.
Akhirnya aku tahu alasan Nenek selama
ini melarangku ke sumur itu. kakek buyutku adalah prajurit kerajaan Wajo, waktu
itu Nenek belumlah lahir, kisah yang ia terakan kepadaku adalah hasil cerita
turun-temurun. Keluarga kami memang sangat pintar merawat kenangan. Di sumur
itu Kakek dimandikan sebelum terjun di medan perang, konon air dari bung parani adalah air paling suci di
seluruh tanah Wajo, airnya dituahkan, mustajab untuk penyembuhan. Selain itu
prajurit kerajaan yang dimandikan dengan airnya akan mendapat semacam kekuatan
mistis. Nenek sangat berapai-api menceritakannya waktu itu.
Selain mitos tentang airnya yang
betuah, bung parani konon memiliki
penunggu, belut yang sebesar lengan orang dewasa, warnanya abu-abu menghampiri
putih, disebabkan umurnya yang ratusan tahun. Menurut cerita Nenek, belut itu
selalu dijadikan tanda, jika dalam ritual memandikan prajurit belut itu tidak
nampak berenang di dasar sumur, maka kerajaan akan kalah dalam berperang.
Begitu pula sebaliknya.
“Kakek buyutmu….”
“Kakek kenapa, Nek?”
Kejarku pada kalimatnya yang mulai
tersendat duka, tampaknya.
Dikisahkan oleh Nenek, kakeknya gugur
dalam pertempuran melawan kerajaan Bone, saat dimandikan belut itu tidak tampak
dan hasilnya kerajaan Wajo takluk.
***
Terang saja Nenek melarangku ke bung parani, ternyata tempat itu membuat
Nenek kehilangan segalanya; orang-orang yang disayangi. Kini tinggal aku
satu-satunya harta yang ia miliki. Ibu dan bapakku meninggal saat aku baru saja
dilahirkan, sekitar satu minggu umurku waktu itu.
“Kamu harus tahu, alasan Nenek
melarangmu ke sumur itu.”
Aku kaget mendengarnya.
“Bukankah Nenek telah
menceritakannya, tentang Kakek yang gugur dalam peperangan?”
“Bukan! Ada hal lain yang lebih
penting daripada itu.”
“Apa, Nek?”
Aku penasaran. Sangat penasaran.
Saat Nenek mulai mengisahkan hal
yang ingin ia sampaikan kepadaku, keresahan begitu ketat berkelebat di
kepalaku. Aku baru tahu; semalam sebelum aku terlahir Ibu bermimpi mandi di
sumur tua itu, konon dalam mimpinya ia melampari belut yang berenang di permukaan
sumur, karena merasa belut itu akan mengotori air sumur, keesokan harinya, aku
lahir dengan selamat dan Ibu meninggal saat berjuang malahirkanku. Tapi perihal
mimpi itu sempat diceritakan kepada Bapak. Bapak geram, ai mengambil cangkul,
tersuruk-tersuruk berjalan ke arah sumur, ia akan menimbun sumur itu, sumur
yang baginya telah menghilangkan nyawa Ibu. Belumlah selesai ditimbunnya,
kepala Bapak mendadak pusing.
Penglihatannya kacau. Kata Nenek, Bapak meninggal karena ditegur oleh penunggu
sumur atas kelancangannya.
Cerita Nenek tentang sumur tua di
samping kebun Puang Beddu, membuatku semakin penasaran. Aku sangat percaya
ucapan guru mengajiku; ajal ditentukan oleh Allah, de’ nattelleng mata esso ritenggana bitarae. Aku sangat percaya,
matahari takkan tenggelam sebelum senja, seperti juga ajal yang telah memiliki
garisnya sendiri.
Pagi-pagi sekali, aku mengambil
jeriken, serta timba, aku lalu minta izin kepada Nenek untuk mengambil air di sumur Puang Masse.
Tentu aku berbohong. Aku menilisik jalan setapak dalam remang, menuju bung parani. Ingatan tentang Kakek,
Ayah, serta Ibu, berkejaran. Ingatan tentang kematian yang tidak wajar. Tapi
hal itu sedkitpun tidak menciutkan nyaliku.
Tanpa gemetar aku berdiri di bibir bung parani, mengulurkan timba, lalu menuangkan air ke dalam
jeriken. Setelah jerikenku penuh, mataku tiba-tiba menangkap seekor belut
(mungkin belut yang diceritakan Nenek) berenang mengitari pinggir sumur. Aku
merasa sebuah kemenangan akan menghampiriku. Aku segera pulang. Jalanku seperti
berlari rasanya.
Di rumah panggung kami yang
sederhana orang-orang menyemut.
“Nenekmu meninggal setelah muntah
darah.”
Puang Masse menuntun lenganku
menanjaki tangga. Aku berlari memeluk Nenek.
“Nek, sumur itu ternyata tidak
melukaiku, lebih-lebih merenggut nyawaku.”
Bisikku padanya dengan penuh rasa
kemenangan.(*)
Wajo(Tale),
28 Juni 2012
Nb; Bung Parani adalah situs sejarah yang dimiliki
Kabupaten Wajo, terletak di Tosora, Kecamatan Majauleng, merupakan tempat
memandikan prajurit sebelum berperang. Mitos-mitos seperti ‘belut’ memang
selalu dibicarakan masyarakat

0 komentar:
Posting Komentar