Kita, Hujan dan November

Senin, 12 November 2012



        November dan hujan adalah sepasang kekasih. Kita dan rindu, dua tempat yang selalu dikunjunginya. Bersamaan.

            Makassar, 10 November 2012, saat hujan mulai deras.

            Di bangku putih luntur ini, aku menunggumu, hingga empat hari ke depan. Hari ulang tahun hubungan kita, Naf; 14 November. Sekarang hujan, deras sekali, lebih deras dari rinduku. Lebih deras dari ingatanku, tentang kita; kenangan. Waktu itu, juga hujan, seperti derasnya luka oleh perpisahan. Tapi kita tak saling memutuskan, bukan? Karena itu, aku di sini, bersama hujan. Aku sangat ingat, suatu hari saat hujan, kita bercakap, juga perihal hujan; hujan bahagia.

            “Nanti, saat ulang tahun hubungan kita, kau ingin kado apa, Sayang?” tanyaku.
            “Aku inginkan hujan, hanya hujan. Kau inginkan apa?” Kau balas bertanya.
            “Jika kau inginkan hujan, aku inginkan dingin, boleh kutambah pelukan?” Kita terdiam, cukup lama, membunuh hujan, membunuh gigil. Kau mengangguk—dagumu menusuk pundakku.

***

            Kau takut hujan, aku tak suka basah. Tapi, sejak janji; akan kukadokan  hujan, kau beri aku gigil—kita saling menukar pelukan, aku menunggu hujan, menuggu kau. Semoga juga kau, sama denganku. Kita memutuskan berpisah, tidak memutuskan kisah, apalagi kasih. Tidak, Naf. Setahun, dua tahun, tiga tahun kita berpacaran. Aku merasa hambar, tak pernah ada marah, tak pernah ada masalah. Kita bahagia. Selalu. Tapi, kita sadar, bahagia akan terasa biasa-biasa saja, jika terus-menerus bahagia. Bukankah cinta, tak cukup satu cerita, dan jarak barangkali cerita lain yang perlu ada, sedikit rindu, dan sebuah pisah. Kita sepakat, meninggalkan, walau tak saling menanggalkan, cinta.

            Setiap hujan kita akan selalu menelpon, bergantian, siapa yang lebih dulu ingat. Dan daya ingat kita berimbang, ternyata.

            “Fai, di sini, hujan sangat deras, aku takut.” Terdengar cemasmu di ujung telpon.
            “Bertedulah, Naf, jangan keluar rumah. Pasang headset, dan putar semua lagu tentang hujan yang sering kita dengarkan bersama. Seduhlah secangkir dua cangkir teh, letakkan di atas meja makan, bayangkan ada aku yang membantu menandaskan isi gelasmu.” Sungguh, aku sangat khawatir, aku tahu kau takut hujan, dan aku tiba-tiba takut, karena hujan dan kau sendirian.

            “Atau..., aku ke sana, kau di mana?” lanjutku. Aku juga takut hujan, tapi lebih takut kau dikalahkan ketakutan.
            “Tidak usah, Fai, kau tak boleh repot. Bukankah sepakat kita membuat jarak.” Kau berlagak tenang.
            “Ah..., tidak, Naf, kau di mana? Hujan di mana? Tunggu aku!”
            “Aku sedang di hatimu, Fai. Hujan ada di hatiku. Hujan rindu, hahahaha,” di seberang, suaramu pecah, terbahak, merasa mengalahkanku. Kau mempermainkanku, rupanya. Tapi, tak apa Naf, ini juga adalah sebuah cerita. Aku menikmatinya! Hujan mendadak deras, di bibirmu, bibirku; hujan tawa.

***

            Makassar, 10 November 2012, saat hujan bertambah deras.

            Masih empat hari, pertemuan akan kita buat. Tapi, aku telah datang. Setahun, membuat rindu cepat menua. Sejak 14 November yang lalu. Sejak kita menuliskan jarak dalam cerita, aku belajar membaca cuaca; hujan, kemarau, panas serta dingin. Lantas kubaca kau di mana-mana, setiap cuaca, di semua musim. Dasar, rindu! Selain hujan, dingin dan pelukan, aku juga menyiapkan sebuah puisi untuk kado. Meski kau tak meminta, tapi aku selalu ingin memberimu, bahkan hal yang tidak kau harapkan. Kau harus tahu, setiap saat, aku berdoa agar usia tak lekas usai. Pula, tak segang memanjang. Aku ingin hidup selama masih hujan, hujan waktu, barangkali.

            Jika hujan ingatlah aku, jika rindu ingatlah hujan, jika lupa, ingatlah..., mati.

            Masih di bangku bercat putih luntur dan lumut. Di bawah rindang pohon—yang berjanji kau beritahu namanya, namun tak pernah sempat. Hanya sesekali lelehan air menimpaku, aku ditudungi lebat daun pohon yang telah kita tuliskan nama di batangnya, waktu itu, saat berpisah. Ponselku tiba-tiba berdering.

            “Halo, di sana hujan juga, Naf?”
            “Iya! Kok tahu?”
            “Bukankah kau biasa menelpon hanya saat hujan?”
            Kau menangis. Hujan, di matamu. Kurasakan derasnya.
            “Aku punya cerita, tentang hujan.”
            “Mulailah!”
            “Saat November, kotaku dan kotamu selalu hujan. Deras. Aku ingin ke sana, empat hari lagi. Tapi..., selalu hujan, aku takut.”
            “Jadi?” tanyaku terkoyak.
            “Seharusnya kita tidak berjanji di November. Kalaupun harus, adalah hadiah selain hujan. November yang lain, saat tidak hujan, kau harus hadiahkan hujan, itu janji. Aku akan datang.” 

            Hujan semakin deras; hujan sesal. Bangku putih luntur, berkarat, karena hujan, karena air mata. Hujan kian deras, telpon putus, dan November masih muda. Banyak hujan, tapi mengapa harus November?

Unhas, 5 November 2012

0 komentar:

Posting Komentar

Faisal Oddang. Diberdayakan oleh Blogger.