TERUNTUK SEPASANG SUAMI-ISTRI YANG
PALING AYAH DAN PALING IBU
:
Oddang Ranreng dan Hj. Mandauleng A. Gani
kelak
aku pulang dari tualang, akan kuceritakan kepada kalian bahwa, anakmu ayah,
anakmu ibu, telah sanggup menampung airmatanya sendiri, walau kutahu kalian
ingin muara semua lara. juga akan kuterakan, bahwa aku telah pernah menulis
puisi untuk seorang gadis, yang selalu menganggu tidur anakmu. gadis itu
penyuka warna biru, aku ingat ayah pernah bilang; biru itu lembut seperti
ibumu. dia juga suka menari, tari seperti yang diajarkan ibu—leluso—tari penyambutan—karenanya
kebahagiaan kian biak dengan baik.
anakmu
telah belajar mencintai, aku pualam di pulau entah yang memahat diriku dari
tangan gadis-gadis pengrajin. anakmu ayah, anakmu ibu, bocah tua yang gelayuti
lengan-lengan tabahmu. aku percaya di sana kehidupan lebih hidup. seumpama
matamu itu—tempat tahun-tahun menua menjadi tuhan-tuhan yang ramah kepada
hambanya, aku.
selalu
kaubutuhkan tabah ke tubuhmu itu saat menunggu kelanaku yang entah kemana. aku
berjanji kepadamu ayah, kepadamu ibu, kupelukkan peluh ke tubuhmu dengan susu
dari laban—susu surgawi. kita teguk
bersama-sama gadis yang selalu kutuliskan puisi untuknya. kelak pelana membawa
kelana ke sana, ke tempat tunggu paling madu; rumah kita.
Wajo, 18-Juli-2012
0 komentar:
Posting Komentar