Selamat Ulang Tahun, Za

Sabtu, 17 November 2012



“Selamat Ulang Tahun, Za”

            Sebelum usiamu usai, bacalah!

            Ada beberapa potong kata yang tidur dalam bibirku, Za. Banyak. Sangat banyak. Lewat ini mereka terjaga, lantas mencari matamu sebagai tempat tidur, selanjutnya. Aku menghabiskan seribu enam ratus tiga puluh empat detik untuk menuliskan puisi ini. Mungkin bukan puisi. Tapi ini puisi. Bagiku, bagimu juga, barangkali. 

            Aku berdoa kepada kehilangan, agar ia buta saat mencarimu dalam kepalaku. Aku berdoa kepada kehilangan, agar ia bisu saat memanggilku dalam dadamu. Juga..., aku berdoa kepada kehilangan, kelak ia datang, hanya umurmu yang ditanggalkan. Sebab beginilah barangkali, cara kau mencintai apa yang sangat mencintaimu, yang sebenarnya kau benci; kehilangan. Ini detik ke-empat ratus dua puluh empat, tapi belum sempat kutempatkan rapat kalimat  di lipat namamu. Kalimat; selamat ulang tahun, Za.

            Kau tentu bertanya, mengapa sekarang kau kunamai “Za” padahal dulu “Zha”. Aku bingung juga memilih yang mana. Sungguh. Aku memanggilmu “Zha”, dulu, sebab semacam ada desah yang kusampaikan saat menyapamu. Romantis, bukan? Tapi, kau belum tahu, aku suka nama panggilan yang pendek. Kemungkinan paling pendek sebuah nama, adalah sapaan paling romantis bagiku. Kau mengerti, kan, Zha? Eh, Za? Aku suka namamu pendek, tapi tidak umurmu. Selamat ulang tahun, Za.

            Sebelum umurmu lamur, bacalah!

            Kemungkinan ada beberapa susun kata, yang kau kutip dalam katup catatanmu. Catatan yang katamu, kau tulis dengan pensil. Barangkali isi catatanmu seperti ini;

            Malang, 17 November 2012, dengan segelas kopi dan ingatan tentang kampung yang konon berisi halaman. Di halaman pertama kutulis “selamat ulang tahun, Saya.”

            Aku masih pandai berandai. Peka menduga isi kepala yang bukan kepalaku. Walau lebih sering salah, seperti katamu. Sekali lagi dan kelak sekali lagi dan berkali-kali; selamat ulang tahun, Za. Semoga kita bisa bertemu di tempat dan waktu yang sepakat untuk sama. Di umur yang belum lamur untuk menukar kado yang kita janjikan; sebuah buku.

            Aku ingin sebentar malam, sebelum usiamu genap delapan belas tahun satu hari, di ujung ponselmu kau bersedia bersetia mendengar deringnya dan diam, saat telpon terhubung. Aku akan berucap; Selamat ulang tahun, Za. Sekali lagi, dan akan berkali-kali.


Wajo, 17 November 2012
*gambar, kucari dan kucuri dari akun facebookmu, Za. 

0 komentar:

Posting Komentar

Faisal Oddang. Diberdayakan oleh Blogger.