“Selamat
Ulang Tahun, Za”
Sebelum
usiamu usai, bacalah!
Ada beberapa
potong kata yang tidur dalam bibirku, Za. Banyak. Sangat banyak. Lewat ini
mereka terjaga, lantas mencari matamu sebagai tempat tidur, selanjutnya. Aku menghabiskan
seribu enam ratus tiga puluh empat detik untuk menuliskan puisi ini. Mungkin
bukan puisi. Tapi ini puisi. Bagiku, bagimu juga, barangkali.
Aku berdoa kepada kehilangan, agar ia buta saat mencarimu
dalam kepalaku. Aku berdoa kepada kehilangan, agar ia bisu saat memanggilku
dalam dadamu. Juga..., aku berdoa kepada kehilangan, kelak ia datang, hanya
umurmu yang ditanggalkan. Sebab beginilah barangkali, cara kau mencintai apa
yang sangat mencintaimu, yang sebenarnya kau benci; kehilangan. Ini detik
ke-empat ratus dua puluh empat, tapi belum sempat kutempatkan rapat
kalimat di lipat namamu. Kalimat; selamat ulang tahun, Za.
Kau tentu
bertanya, mengapa sekarang kau kunamai “Za” padahal dulu “Zha”. Aku bingung
juga memilih yang mana. Sungguh. Aku memanggilmu “Zha”, dulu, sebab semacam ada
desah yang kusampaikan saat menyapamu. Romantis, bukan? Tapi, kau belum tahu,
aku suka nama panggilan yang pendek. Kemungkinan paling pendek sebuah nama,
adalah sapaan paling romantis bagiku. Kau mengerti, kan, Zha? Eh, Za? Aku suka
namamu pendek, tapi tidak umurmu. Selamat ulang tahun, Za.
Sebelum umurmu
lamur, bacalah!
Kemungkinan ada
beberapa susun kata, yang kau kutip dalam katup catatanmu. Catatan yang katamu,
kau tulis dengan pensil. Barangkali isi catatanmu seperti ini;
Malang, 17 November
2012, dengan segelas kopi dan ingatan tentang kampung yang konon berisi
halaman. Di halaman pertama kutulis “selamat ulang tahun, Saya.”
Aku masih pandai
berandai. Peka menduga isi kepala yang bukan kepalaku. Walau lebih sering
salah, seperti katamu. Sekali lagi dan kelak sekali lagi dan berkali-kali;
selamat ulang tahun, Za. Semoga kita bisa bertemu di tempat dan waktu yang
sepakat untuk sama. Di umur yang belum lamur untuk menukar kado yang kita
janjikan; sebuah buku.
Aku ingin sebentar malam, sebelum usiamu genap delapan
belas tahun satu hari, di ujung ponselmu kau bersedia bersetia mendengar
deringnya dan diam, saat telpon terhubung. Aku akan berucap; Selamat ulang tahun, Za. Sekali lagi,
dan akan berkali-kali.
Wajo, 17 November 2012
*gambar, kucari dan kucuri dari akun facebookmu, Za.

0 komentar:
Posting Komentar